Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari, dengan jutaan orang di seluruh dunia menggunakan berbagai platform untuk terhubung, berbagi, dan berinteraksi dengan orang lain. Dari masa awal MySpace dan Friendster hingga munculnya Facebook, Instagram, dan TikTok, media sosial telah berkembang pesat, membentuk cara kita berkomunikasi dan menampilkan diri secara online.
Salah satu tren paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah maraknya selfie. Selfie, atau potret diri yang diambil dengan smartphone atau kamera, telah menjadi bentuk ekspresi diri yang umum di platform media sosial. Dari selebritas, influencer, hingga pengguna sehari-hari, semua orang tampaknya mengambil foto selfie dan membagikannya kepada pengikut mereka.
Tapi kenapa selfie begitu populer? Psikolog percaya bahwa selfie berfungsi sebagai cara bagi individu untuk meningkatkan harga diri mereka dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dengan membagikan citra diri mereka yang dikurasi secara cermat, pengguna dapat mengontrol persepsi audiens online terhadap mereka, sehingga menghasilkan rasa pemberdayaan dan kepercayaan diri.
Namun, tren selfie juga memicu kekhawatiran tentang narsisme dan egoisme. Beberapa kritikus berpendapat bahwa fokus terus-menerus pada promosi diri dan pengembangan citra di media sosial dapat menyebabkan perbandingan yang tidak sehat dan ekspektasi yang tidak realistis. Dalam kasus ekstrim, individu mungkin mengembangkan rasa harga diri yang terdistorsi berdasarkan jumlah suka dan komentar yang mereka terima pada foto selfie mereka.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, muncul tren baru di kalangan media sosial yang dikenal dengan istilah “sultanking”. Diciptakan oleh penulis dan pakar media sosial Dr. Sara Ahmed, sultanking adalah gerakan yang mempromosikan penerimaan diri dan cinta diri daripada promosi diri dan pencarian validasi. Istilah “sultanking” berasal dari kata Arab “sultan”, yang berarti penguasa atau pemimpin. Dalam konteks media sosial, sultanking mengacu pada pengambilan kendali atas citra diri seseorang dan merangkul keaslian dan kerentanan dalam lautan selfie yang dikurasi dengan cermat.
Gerakan sultanking mendorong penggunanya untuk fokus pada kualitas dan nilai batin daripada penampilan luar. Daripada mencari validasi dari orang lain, para sultan mencari validasi dari dalam, menumbuhkan rasa harga diri yang tidak bergantung pada suka atau komentar. Dengan menerima ketidaksempurnaan dan kekurangan, para sultan ingin melepaskan diri dari tekanan media sosial dan mendefinisikan kembali standar kecantikan sesuai keinginan mereka.
Seiring dengan terus berkembangnya media sosial, penting bagi pengguna untuk memperhatikan tren dan perilaku yang membentuk interaksi online mereka. Baik Anda penggemar selfie atau pendukung sultan, penting untuk menyadari bagaimana kehadiran online Anda berdampak pada kesehatan mental dan harga diri Anda. Dengan memahami evolusi tren media sosial dan menerima keaslian serta penerimaan diri, kita dapat menciptakan komunitas online yang lebih positif dan memberdayakan bagi semua orang.